Registrasi
 
Tentang kami
 
Hubungi kami
 
advance search
 
 
 
 
 
 
  Home
  Berita buku
  Forum diskusi
  Profil pengarang
  Kelas baca
  Agenda
  Ruang Baca
  Edisi November 2009
 




 
  Rabu | 08 | 09 | 2010 | 02:36
Forum Diskusi Topik bulan ini | Buku bulan ini | Kantong ide | Resensi anda

SF di Negeri Sepi Pembaca

Novel science fiction karya penulis lokal memang langka.

Sulung Haryanto, pemuda lulusan Jurusan Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, mendeskripsikan situasi berikut ini di bagian awal bukunya yang baru terbit pada April lalu:

"Ini foto dari Bintang Alpha Veta. Kami mengambil gambarnya dalam dua hari terakhir ini," orang berkulit hitam yang bernama Tracy Rustin menjelaskan. Dia yang bertanggung jawab atas terbangunnya Paul malam ini.

"Semakin lama, cahaya bintang itu semakin terang. Apa Anda tahu tentang itu, Pak?"

Paul tidak langsung menjawab pertanyaan Tracy. Dia mengamati lembar demi lembar foto di hadapannya. Foto terakhir diambil pukul 00.15.

"Bagaimana sekarang?" tanya Paul.

"Sebaiknya Anda lihat sendiri."

Paul mengambil alih lensa teleskop dari tangan Tracy.

Beberapa saat kemudian, "Tak mungkin! Kita harus menghubungi NASA. Mereka pasti telah mengetahui hal ini!"

....

Gaya serupa, yaitu tidak segera menyebutkan kegentingan apa sebenarnya yang membuat Paul dan orang-orang lain terkesiap, beberapa kali diekspos hingga sepertiga bagian buku. Seperti cerita misteri. Dengan inilah, antara lain, Sulung lalu bercerita tentang bintang Alpha Veta tak jauh dari Pluto yang menjadi mahapanas sehingga mengancam keberadaan bumi -- sebuah fiksi dengan skenario doomsday, hari kiamat, berdasarkan khayalan tentang bintang mati yang hidup lagi.

"Kebetulan saya memang saat itu sedang menggemari tema tentang bencana," kata Sulung, 29 tahun, yang mengaku terinspirasi film The Day After Tomorrow. Dari menonton film tentang datangnya zaman es di bumi akibat efek jangka panjang rumah kaca ini, katanya, "Timbullah ide untuk membuat cerita sejenis".

Novel berjudul Alpha Veta: Awal dari Akhir setebal 212 halaman terbitan Dar! Mizan itu berlabel Science Fiction di sampulnya. Inilah seri produk yang, menurut Ali Muakhir, manajer penerbit dari Bandung ini, sudah dimulai sejak 2003. "Untuk mengisi kekosongan novel dengan tema nondrama atau nonroman," katanya.

Science fiction? "Kebetulan waktu itu ada naskah yang masuk ke redaksi kami dan menarik. Lalu kami menyusun kerangkanya, untuk panduan bagaimana menyajikan science fiction dengan kacamata Islami," kata Ali. Naskah pertama karya Eliza Vitri Handayani itu pun diterbitkan dengan judul Area X. Sukses. Buku ini sudah dicetak tiga kali. Berturut-turut sesudah itu Dar! Mizan menerbitkan Bumi Legenda, The Independent, dan Labirin. "Kami akan terus menambah judul," kata Ali lagi.

Menambah judul, itu penting. Novel science fiction (biasanya disingkat sci-fi atau SF) karya penulis lokal selama ini memang langka. Pembaca cerita anak-anak di masa lalu mungkin masih ingat Djoko Lelono, yang sesekali menulis kisah yang berhubungan dengan angkasa luar. Tapi pembaca sekarang?

Karya mutakhir yang dianggap meleburkan sains (science) ke dalam fiksi dan malah dipromosikan sebagai yang pertama di Indonesia adalah Supernova -- Episode: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (2001), yang ditulis Dee (Dewi Lestari). Mengisahkan sepak terjang dua penulis bernama Dhimas dan Ruben, Dee juga berbicara tentang proses nonlinier, Paradoks Kucing Schrodinger, dan ko-evolusi, berimpitan dengan lamunan tentang masa lalu, perselingkuhan, psikologi bunuh diri, dan hubungan antarpribadi. Di luar novel ini, atau sesudahnya, sulit ditemukan yang lain; kalaupun ada, barangkali tak masuk ke dalam layar radar.

Dari buku-buku yang sudah ada, jangan membayangkannya senapas apalagi sekelas dengan kebanyakan science fiction yang datang dari luar. Bukan saja riwayatnya yang sudah puluhan tahun, atau bahkan jauh lebih lama dari itu, tergantung dari mana melihatnya, science fiction dari luar terdiri atas beragam jenis dan cakupan, yang kandungan keilmuan dan teknologinya tinggi atau yang tergolong sederhana. Ada pula yang dibuat berdasarkan atau dipadukan dengan (tie-in) cerita film. Tapi yang mana pun, sangat banyak yang daya tariknya terlalu kuat untuk diabaikan oleh penggemarnya.

Simaklah cerita pengalaman Sigit Prabowo, yang pertama kali mengenal Isaac Asimov saat masih SMP, pada 1985. Asimov, warga Amerika Serikat kelahiran Rusia, termasuk tiga besar penulis science fiction pada abad ke-20 (dua yang lain adalah Robert A. Heinlein dan Arthur C. Clarke).

Tinggal di Purwokerto, sebuah kota di Jawa Tengah yang jauh dari hiruk-pikuk dunia global, Sigit suatu kali tertarik pada sekardus buku di rumah pamannya. "Waktu itu saya kehabisan bacaan dan saya lihat ada buku peninggalan orang asing tetangga paman saya yang pulang kampung," katanya. Rasa ingin tahunya berdering karena isinya adalah cerita-cerita yang berhubungan, atau berlatar belakang, atau memuat gagasan sains dan teknologi. Buku yang pertama dia baca adalah sebuah antologi cerita pendek pilihan Asimov.

Perkenalan dengan penulis hampir 500 buku itulah yang lalu membuat rasa takjubnya pada science fiction terus menyala. "Dunia teknologi memang memikat buat saya," katanya tentang apa yang menyebabkannya tertarik pada science fiction. Dia beruntung setelah kuliah di jurusan elektro di sebuah universitas di Yogya, karena bisa jauh lebih mudah mendapatkan buku-buku 'baru'. Langganannya adalah Toko Buku Lexy di Malioboro, yang menjual buku-buku bekas. "Lumayan, hanya dengan Rp 3.000 sampai Rp 7.500 per buku."

Kini, setelah bekerja dan tinggal di Jakarta, Sigit tak serta-merta meninggalkan kebiasaan membeli buku bekas, apalagi setelah buku impor menjadi kian mahal. Tak jarang karyawan Bank BNI ini memperoleh kiriman dari temannya di luar negeri (sebagian dari buku-buku ini dia perlihatkan ketika ditemui di kantornya dua pekan lalu). Di apartemennya, di kawasan Kuningan, dia menyimpan koleksinya yang mencapai 200-an, termasuk buku-buku yang dia beli ketika menempuh pendidikan S-2 di Amerika Serikat.

***

Sama dengan Sigit, Amerika pun bagai surga buat Tom Malik, yang sempat melanjutkan studi di sana pada 1980-an. Selain kian mudah mendapatkan buku, waktu itu Direktur Eksekutif Koalisi untuk Indonesia Sehat ini sempat menonton Dune yang baru diputar di bioskop. Film arahan sutradara David Lynch (1984) ini dibuat berdasarkan epik rekaan Frank Herbert, penulis science fiction yang disetarakan dengan J.R.R. Tolkien (pengarang trilogi fantasi The Lord of the Rings). "Hasilnya mengecewakan," katanya. "Tapi saya malah jadi semakin tertarik membaca cerita-cerita Herbert."

Dalam novel-novelnya, Herbert dikenal selalu mengeksplorasi gagasan-gagasan pelik yang meliputi filsafat, agama, psikologi, politik, dan ekologi -- bidang-bidang yang akhirnya juga membuat banyak di antara penggemarnya tertarik. Yang menjadi nyawa karya-karya Herbert adalah ketakjubannya pada masalah-masalah kelangsungan hidup manusia dan evolusi.

Novel Dune, yang terbit pertama kali pada 1965, berlatar masa depan yang jauh, ketika semesta terbelah-belah ke dalam banyak kerajaan galaksi feodalistik. Herbert mengisahkan nasib Paul Atreides muda ketika dia dan keluarganya pindah ke Planet Arrakis, satu-satunya sumber rempah-rempah melange yang berharga bagi semesta. Paul adalah pewaris kedudukan Duke Leto Atreides dan keturunan House Atreides. Dengan bumbu action, lewat konfrontasi di antara pihak-pihak yang ada, Herbert mengaduk-aduk kerumitan politik, agama, ekologi, teknologi, dan emosi manusia.

Tom, yang mulai membaca novel science fiction sewaktu SMA, lebih menyukai tema-tema serius seperti itu. "Umumnya memang tidak ada aksinya, tapi ide scientific-nya dan imajinasi untuk mengeksplorasi ide itu lebih menggugah, dan kebanyakan optimistis melihat masa depan manusia," katanya. Optimisme inilah yang, menurut dia, tak bisa didapatkan dari karya-karya penulis seperti Philip K. Dick (misalnya Do Androids Dream of Electric Sheep? yang difilmkan menjadi Blade Runner atau Minority Report) yang "cenderung gelap". Selain Herbert, penulis-penulis favoritnya yang lain termasuk Asimov dan Clarke.

Di samping karena senang membaca, minat Tom pada novel science fiction bermula dari serial televisi Lost in Space dan -- terutama -- Star Trek. Tapi ketika novel-novel Star Trek diterbitkan, Tom justru sama sekali tak berminat membacanya, apalagi mengumpulkannya. Dalam urusan seperti ini, Surjorimba Suroto boleh disebut sebagai die-hard fan. Gandrung pada Star Wars, karyawan PT Surveyor Indonesia yang luas minat dan hobinya ini setia mengikuti edisi novel cerita rekaan sutradara George Lucas itu, yang baru mulai diterbitkan setelah episode Return of the Jedi (1983).

Surjo, 36 tahun, mulanya tak seketika menubruk novel-novel itu begitu dan setiap kali terbit. "Saya baru benar-benar serius mengikutinya pada 1996," katanya. Kini dia sudah mengoleksi 60-an judul. Ini pun masih ditambah beberapa versi komiknya, terutama yang masuk kategori essentials seperti Dark Empire.

"Novel dan komik Star Wars lebih menarik daripada filmnya," kata Surjo. "Pertama, karena karakter-karakternya lebih jelas. Kedua, beberapa konsep di film, misalnya tentang Sith, justru awalnya berasal dari novel."

Sejak kecil terbiasa dengan komik, yang umumnya juga memuat imajinasi science, Surjo merasa minatnya pada novel-novel science fiction sebagai kelanjutan yang wajar saja dari kegemarannya ini. Dan dia bisa menikmati jenis novel science fiction yang mana pun, yang berat (hard) maupun yang ringan (soft), atau yang masuk kategori space opera seperti Star Wars itu. "Saya merasa tidak sedang berada di persimpangan dan harus memilih mau belok ke mana," katanya. Tentu saja dia mengenal karya-karya para kampiun seperti Asimov, Clarke, Herbert, juga Michael Crichton.

***

Orang-orang seperti Sigit, Tom, dan Surjo tidak banyak. Sigit, yang bergaul luas dari hobinya yang lain, musik, mengaku tak tahu apakah ada perkumpulan yang menghimpun penggemar novel science fiction. "Saya hampir tak punya kenalan yang sehobi, dalam hal ini, sewaktu di Yogya sekalipun," katanya. Tom dan Surjo idem ditto. Surjo, karena kesukaannya pada Star Wars, masih bisa bergabung dengan starwars_over_thirty, komunitas internasional penggemar Star Wars yang berusia di atas 30 tahun.

"Kultur kita tidak terobsesi dengan teknologi," kata Surjo. "Jadi, masyarakat penggemar science fiction juga terbatas."

Sudah begitu, toko buku yang menjual novel science fiction pun tak tahu persis siapa saja mereka. Di rak display, buku-buku datang dan pergi, dengan perputaran yang memang tak secepat buku-buku lain. Tapi, "Kami tidak punya data tentang para pembelinya," kata Amanda, Customer Service Toko Buku Kinokuniya di Plasa Senayan, Jakarta. Dia hanya bisa menyebutkan bahwa, berdasarkan data penjualan, yang paling laris adalah novel-novel yang berkaitan dengan film, misalnya Star Wars dan The Lord of the Rings.

Kinokuniya hanya satu dari sedikit toko yang menjual novel science fiction. Di toko ini novel-novel Star Wars menempati sebagian kecil kompartemen rak khusus seksi science fiction yang panjangnya kira-kira empat meter dan tinggi 1,5 meter. Sebagian lain yang dipajang adalah karya-karya berbagai penulis dari Zaman Keemasan (1940-1950) hingga masa kini, novel maupun kumpulan cerpen. Ada Asimov, Heinlein, Clarke, Dick, Ursula Le Guin, William Gibson. Di situ bahkan terdapat pula novel 'klasik' Dick Do Androids Dream of Electric Sheep? dan seri kisah Hitchhiker's Guide to the Galaxy karya Douglas Adams, yang filmnya baru saja dirilis.

Harus diakui, di Indonesia, semua itu tergolong koleksi yang menggiurkan. Tapi, kalaupun kendala harga bisa diabaikan, minat yang ada saat ini memang masih jauh panggang dari api.

Bukan berarti tak ada optimisme. Surjo termasuk mereka yang yakin bahwa generasi sekaranglah yang berpotensi menjadi pembacanya, karena "mereka sudah lebih terbiasa dengan teknologi". Meski begitu, masih perlu waktu sampai saatnya tiba. Apa yang sudah dimulai oleh Dee, dan apalagi Dar! Mizan dengan seri science fiction-nya, untuk sementara bisa memperkaya khazanah dan bahan 'latihan'. Dan penulis-penulis baru, seperti Sulung yang kini sedang merampungkan novel barunya tentang dunia hacker komputer, tak boleh diremehkan sumbangannya, sekecil apa pun.

l purwanto setiadi


Kirim komentar | Baca komentar | Arsip
 
  Copyright Tempo 2005 busana muslim